Kabut Asap di Kalimantan


Kabut tebal membuat sebagian penumpang cukup was-was dengan kondisi penerbangan Kalimantan Barat.
Waktu itu menunjukkan sekitar pukul 11:30-an, saya tahu bahwa pesawat Xpress Air sudah memasuki daratan Kalimantan, terlihat dari awan-awan yang sudah mulai padat dan hamparan tanah luas. Hanya selang berapa detik pemandangan tersebut hilang menjadi warna abu-abu, bukan warna awan melainkan warna asap.

BMKG kala itu menginformasikan kondisi udara tidak sehat. Musim kemarau yang panjang mengakibatkan lahan di Kalimantan Barat sangat gampang terbakar dengan sendirinya, kemudian warga pun ikutan membakar tanah saat musim kemarau tiba. Buat apa? Supaya tanah bisa ditanami tumbuhan dan subur.


Tanah gambut memiliki dua kekurangan utama: sulit ditanami tumbuhan kecuali tanah harus dibakar terlebih dahulu supaya humus bisa masuk ke dalam tanah dan membuat tanah subur. Kekurangan berikutnya yang agak mengerikan. Yaitu, apabila tanah tersebut terbakar dan sudah dipadamkan ternyata hanya padam dibagian permukaan saja, didalam tanah, api masih bergerak dengan liar sehingga sewaktu-waktu api bisa muncul dipermukaan tanpa kita ketahui. Kondisi ini jugalah yang membuat hutan gampang terbakar.

Beruntung pesawat kami bisa mendarat, beberapa kasus yang pernah terjadi pesawat tidak jadi mendarat karena kesulitan visual.

Saya terkadang heran, kasus kebakaran hutan ini hampir tidak ada selesainya dan seperti sudah menjadi agenda tahunan, mirip seperti banjir, susah ditanggulangi. Dan negara pun seperti tidak begitu peduli, karena bencana ini seperti hanya "asap" saja dan terlihat tidak mengganggu. Padahal banyak penduduk yang menderita sakit paru-paru dari dewasa hingga anak-anak karena asap ini. Kadang terpikirkan dikepala saya, mungkin ibukota harus berpindah ke Kalimantan dulu baru masalah ini diusut!

No comments:

Post a Comment

Instagram