Dengan tulisan ini saya harap, kita bersama-sama berjuang menyongsong masa depan negeri ini dengan lebih baik.
UN masih menjadi momok bagi setiap siswa yang berada di bangku SMA. Tidak sedikit siswa SMA yang merasa frustasi apabila gagal untuk lulus UN, dari mulai pingsan, menangis tidak henti-henti hingga kesurupan. Dan hingga kini berita-berita yang menghebohkan tersebut masih sering kita lihat di layar televisi kita.
Momok permasalahan ini menjadikan baik siswa dan wali murid menjadi sangat khawatir terhadap nilai mata pelajaran yang ada di SMA. Pundi pundi uang pun dengan rela dilontarkan untuk memenuhi standar nilai minimum untuk lulus SMA.
Ironisnya setelah lulus SMA, universitas universitas ternama jarang memperhatikan angka yang tertera dilembar kelulusan
Dan lebih celakanya lagi, kita tidak menyadari bahwa ada poin yang harusnya kita bangun sejak dini di waktu SMA. Bukan nilai apalagi soal percintaan.
Yang pertama ialah enterpreneurship, mengapa ini menjadi penting? Kita sendiri sudah menyadari bahwa, lulus kuliah pun sulit untuk mendapatkan pekerjaan. Ditambah lagi sekarang sudah memasuki era pasar global, plus Tenaga Kerja Asing bisa bekerja di tanah air kita, plus biaya hidup yang semakin tinggi, dan terakhir… persaingan yang semakin ketat.
Skill entrepreneurship membantu kita untuk menabung di masa depan, sebab kita tidak ingin suami menjadi karyawan yang terus bekerja. Kita ingin suatu hari nanti di waktu tua kita bisa menikmati hidup yang lebih santai bersama anak dan cucu.
Salah satunya yang memungkinkan hal ini terjadi adalah anda memiliki suatu usaha yang berjalan dengan lancar dan stabil.
Berikutnya adalah leadership. Skill ini sangat sulit dipelajari, tidak sedikit yang mengatakan bahwa ledership paling ampuh dipelajari dari pengalaman hidup.
Meskipun begitu faktanya kemampuan ini tetap bisa dipelajari, baik dari studi kasus ataupun simulasi. Namun ironisnya tidak sedikit dari masyarakat yang mengatakan bahwa leadership hanya bisa dipelajari dari organisasi, sehingga makna dari leadership di Bumi Pertiwi menjadi bergeser. Yaitu, seseorang yang “harus terlihat” benar dihadapan publik.
Yang ketiga adalah human behavior atau bisa kita kategorikan sebagai perilaku.
Sewaktu SD ada pelajaran seperti kewarganegaraan ataupun semacamnya, yang intinya adalah memberikan sedikit wacana moral kepada anak-anak penerus bangsa. Aneh ya pelajaran moral seperti ini hanya bersifat teori dan menjawab soal di atas kertas.
Padahal jelas sekali perilaku tidak bisa diukur dari jawaban di atas kertas.
Kita sudah mulai menyadari bahwa masyarakat Indonesia semakin kehilangan identitas, budaya-budaya yang masuk dari luar negeri lebih digemari dibanding budaya yang ada di tanah air sendiri. Secara tidak langsung berimbas kepada gaya berpikir dan moral. Kini muda-mudi di negeri kita sudah menganggap ciuman adalah hal yang lumrah, beruntung seks bebas masih dianggap tabu, tapi entah kapan hal tersebut mulai menjadi tidak tabu jika masyarakat kita terlalu mengagungkan budaya asing.
Terakhir adalah public speaking. ini adalah skill yang kebanyakan orang-orang telat untuk mempelajarinya di saat muda. Bahkan sudah sadar pun masih malas untuk mempelajarinya.
Menurut masterprogramguide.com, takut untuk berbicara di muka umum merupakan ketakutan nomor 1 di bagi orang-orang Amerika. Padahal jika anda menguasai kemampuan ini Anda bahkan bisa memulai usaha tanpa spesial pun dana yang keluar dari kantong anda.
Public speaking bukan salah satu jalan anda untuk menaikkan profil pribadi anda dan strata hidup anda yang lebih baik.





No comments:
Post a Comment