Semasa penjajahan Jepang (1942-1945) mengakibatkan suasana tidak menentu ditanah air republik tercinta ini, tidak terkecuali di Pontianak. Kala itu Jepang menggempur, kepolisian dan aparat keamanan seolah tumbang satu persatu, tentara Belanda (baik KL ataupun KNIL) dikirim untuk mempertahankan lapangan terbang yang ada di Sanggau Ledo (saat ini namanya Bengkayang) dari serbuan Jepang atau Nippon melalui Meri dan Serawak.
Lalu Pontianak kembali diserbu dengan 7 pesawat bomber dan terakhir 5 pesawat terbang yang melakukan bom di Sungai Durian. Efeknya dari sebelum serangan dan setelah serangan kantor pemerintahan mati, kepolisian pun lumpuh, suasana menjadi semakin suram dan anarkis mudah terjadi dimana-mana. Kala itu ketersediaan pangan tentulah menipis, maka rakyat pun mulai tak terkendali.
Pontianak menjadi kota tak bertuan, penjarahan dimana-mana, toko-toko dan gudang sudah seperti kelinci yang siap disemblih. Hanya dengan bersenjata kapak, hampir setiap toko dijarah hampir disetiap harinya. Segala hasil rampokan kebanyakan berupa beras, gula, kain, ikan kaleng dan semacamnya. Barang-barang inilah yang dikenal dengan istilah "Cap Kapak".
Perusahaan Belanda seperti Borsumay, Geowehri dan Lindeteves merupakan mangsa empuk, begitu pula toko-toko Cina seperti Lim Nie Toe, Si A Sun, Kwee Khoi Hak yang merupakan toko-toko terkenal kala itu juga menjadi bulan-bulanan.
sumber: pelaku sejarah (Kakek Selamat, dari buku Otobiografinya)
About Me
Ron Ashrovy
Computer Science
Menulis merupakan cara kita berbagi amal jariyah kepada orang lain.Read More
Popular Posts
-
Secara gamblang North Star Metric adalah sebuah teknik (dalam bentuk metrik) yang bertugas untuk menangkap core value atau inti nilai dari s...
-
Menunda-nunda merupakan kebiasaan yang buruk sekalipun disadari banyak yang tetap melakukannya The Art of Procrastination by Ekaterina ...


No comments:
Post a Comment